by : Syuaib Zulkarnain
Di kamarnya yang gelap, Khoirul Insan mengosongkan dompetnya yang tebal dari gajinya bulan ini. Dimasukkan uangnya ke saku, sambil menimbang-nimbang apakah memang lebih baik jika ia membawa dompetnya sekalian. Malam ini sampai besok malam kabarnya ada festival di kampus tempatnya kuliah dulu. Festival ini memang acara tahunan yang besar, karena itu ia rasa perlu untuk membawa seluruh isi dompetnya. Akhirnya, setelah kebimbangan singkat, pergi ia keluar dengan saku penuh uang, tanpa membawa dompetnya. Kontrakannya kebetulan tidak begitu jauh pula dari kampus itu, hanya sekitar 15 menit berjalan kaki. Kebetulan juga, ia masih berdiam di tempat yang sama seperti saat kuliahnya dulu. Disusurinya gang sempit yang mengarah ke jalan yang lebih besar—jalan yang akan mengantarnya ke kampus.
Beberapa langkah dilewati, matanya tertarik ke rumah di ujung gang itu. Seorang bocah lelaki duduk di bagian terdepan dari jok motor, yang lalu diduduki ayahnya di belakangnya, dan ibu serta adiknya di paling belakang. Teringat olehnya ketika kecil, sering pula ia dan keluarga bepergian dengan cara satu-motor-empat-penumpang seperti itu. Seingatnya dan setahunya, hanya orangtuanyalah orang-orang yang ia yakin, tanpa keraguan sedikit pun, benar-benar mencintainya. Entah cintanya hanyalah bentuk lain dari kewajiban seorang orang tua, atau memang cinta yang biasa ia temui di film atau tulisan-tulisan, tidak ada yang tahu. Mungkin ia juga tidak peduli, yang penting mereka—orang tuanya—memang peduli dan bersedia berkorban baginya. Namun, dengan kondisinya sekarang—miskin, putus kuliah, tanpa kemampuan khusus, tanpa pekerjaan tetap, ia tak yakin dapat memuaskan orang tuanya. Ia takut sudah mengkhianati orang tuanya.
Saat kecil, ia dielu-elukan sebagai bakal bintang raksasa nan terang. Seiring waktu, cahayanya meredup, apinya mendingin. Sekarang, bintang itu sudah sangat menciut, dengan cahaya yang sangat redup hingga sulit membedakannya dari objek-objek langit yang lain dan suhunya hampir menyentuh batas terendah bagi suatu bintang. Tak mengherankan jika sewaktu-waktu bintang itu menggembung dan meledak, menelan semua yang ada di sekitarnya.
Dulu, dengan ukurannya yang besar, banyak planet-planet dan meteoroid yang mengitarinya. Namun, dengan ukurannya sekarang yang kecil, sekarang bintang itu tidak bisa lagi menarik objek objek langit lain ke orbitnya. Mungkin masih ada dua tiga buah bebatuan kecil yang mampu ditariknya, tapi tak lebih dari itu. Kalau memang akhirnya ia akan meledak, ia tak mau meledak dan menghilang sendirian. Ia ingin tahu ada berapa banyak objek langit yang bisa ia tarik kembali ke orbitnya, karena ia yakin inilah kesempatan terakhirnya untuk berbuat demikian sebelum ia pupus.
Keluar dari gang dan menapaki tepi jalan besar itu, ia berjalan sambil memperhatikan sekitar, berharap bertemu kenalannya.
“Tapi,” pikirnya, “kalau bertemu pun kenapa? Apa yang akan berubah?”
Selama perjalanan singkatnya itu tidak seorang pun kenalannya ia temui. Sampai dan masuklah ia ke area festival itu. Diingat-ingatnya kembali alasan ia datang ke sini, selain membelanjakan uangnya. Ya, untuk menemui teman-teman lamanya. Di festival yang meriah seperti ini, pasti ada beberapa temannya yang datang. Setelah membeli es teh dan burger—dengan saus cabai yang terlalu banyak bagi seleranya, berkeliling ia mencari temannya.
Di sebuah pojokan agak gelap, nampak olehnya beberapa siluet yang familier. Mereka ternyata mantan teman sekelasnya! Bergegas ia menuju mereka, saling menyapa dan beramah tamah. Seiring waktu berjalan dan teman-temannya berbincang, semakin ia sadar betapa jauhnya jarak mereka sekarang. Entah karena apa, ia merasa tak bisa lagi berhubungan dengan manusia lain. Mungkin memang begitu hasil dari hidup sendiri, mengisolasi diri dari orang lain selama beberapa tahun. Pembicaraan teman-temannya yang semakin teoritis juga tidak membantunya untuk mencoba menimpali omongan mereka.
Kalau diingat-ingat lagi, bahkan ketika ia masih berkuliah pun rasanya tak ada ikatan khusus yang dirasakannya dengan teman-temannya. Ia sibuk membaca hal lainketika temannya membaca materi perkuliahan. Ia sibuk bermain ketika temannya pusing-pusing mengerjakan tugas. Akibatnya, apa yang ia punya di kepalanya untuk dibicarakanpun berbeda dengan isi kepala teman-temannya yang senantiasa belajar itu—selayaknya seorang mahasiswa. Ketika obrolan teman-temannya kali ini menyinggung soal efisiensi penyebaran panas pada jenis-jenis logam, yang terpikirkan olehnya justru kenapa dan bagaimana berbagai jenis logam tersebar di seluruh dunia. Melihat keberadaannya yang hampir tidak dianggap ada oleh teman-temannya, diam-diam ia mundur ke keramaian di sekitar kios-kios.
Berjalan-jalan di daerah festival, membuka matanya tentang seberapa kesepiannya ia. Tanpa keluarga yang menemani, tanpa teman yang mendampingi, ia berjalan bak perahu hanyut—tanpa tujuan, disetir oleh arus dan ombak. Di tengah pikirannya yang kacau, yang bisa dipikirkannya hanyalah seberapa tak menariknya ia. Mungkin ia kurang menonjol. Mungkin ia kurang berani. Mungkin masih ada banyak kekurangan lainnya yang ia punya. Hatinya yang tidak tenang berhasil membujuknya untuk pergi dari festival dan pulang. Mungkin akhirnya lehernya sakit setelah sekian lama mendongak melihat orang-orang bersenang-senang di atas ketika ia ada di dasar jurang yang dalam.
Lama berada di kerumunan membuatnya sadar betapa tak pentingnya ia di dunia, betapa tak berartinya keberadaannya. 20 tahun keberadaannya hampir tidak memiliki arti apa-apa. Siapa yang akan peduli jika sebuah api kecil di kebakaran hutan padam? Semua hal tentang kesepian, arti keberadaan, dan bagaimana ia akan hidup ke depannya sangat memusingkan, ia hanya bisa terbaring di kasur dan mengacak-acak rambutnya. Di tengah kegundahannya, ia teringat sesuatu. Orang akan diingat sepanjang sejarah ketika ia melakukan hal yang besar. Hal yang besar tak melulu soal kepemimpinan yang bijak, penemuan yang canggih, atau heroisme lintas zaman. Di era di mana informasi mengalir bebas, tindakan siapa pun dicatat dan disimpan oleh semua orang. Akhirnya, untuk pertama kali selama hidupnya, ia menemukan jalan hidupnya—sependek apa pun jalan ini.
Ketika kecil, ia suka membaca kisah orang-orang kecil yang berhasil mengalahkan kungkungan ruang dan waktu bagi nama mereka untuk terkenal. Di tengah malam itu juga ia menelusuri semua yang ia bisa mengenai orang-orang tadi. Dicatatnya apa-apa saja modus operandi mereka. Dia bisa saja menghabisi beberapa orang dengan kebarbaran yang belum pernah dijumpai di negeri ini, atau mungkin sekadar meninggalkan tulisan atau coretan aneh di beberapa tempat ramai. Bagaimana pun, ia ingin namanya tertinggal di catatan sejarah.
Di tengah-tengah penelitiannya itu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Perutnya bergejolak—reaksi tubuhnya atas cabai berlebih tadi, mungkin. Bergegas ia ke kamar mandi, dengan ponsel di tangan. Seperti kebiasaannya sejak lama, ia pasti membaca hasil penelusuran dari apa-apa yang muncul di benaknya saat ia berjongkok buang hajat. Lagipula, hasil membaca di mana-mana inilah yang membuatnya bisa dikenal sebagai anak yang tahu banyak hal, membuatnya mampu menembus tes masuk universitas lamanya, dan mendaratkannya di pekerjaannya yang sekarang. Ketika mulai membaca di ponsel, ia selalu mencari lebih banyak hal lagi yang muncul di bacaannya sekarang. Karenanya, jarang sekali urusan isi usus besar sambil membaca ini selesai dengan cepat. Lagi-lagi, seperti biasa, ia baru keluar dari kamar mandi setelah setengah jam berada di dalamnya. Pikirannya masih teralihkan oleh bacaan yang baru diselesaikannya, ditambah waktu yang mulai larut dan tubuh yang lelah, ditujunya kasur dan tidur. Tak lagi dikisahkannya penelitiannya yang tadi itu, setidaknya untuk malam ini.