by : Awaisupa
“Kamu memangnya tidak bosan?”
Bibirnya tidak terangkat. Namun, guratan demi guratan sebagai gantinya menjawabku. Jujur saja, cara menjawabnya itu terkesan sangat tidak acuh. Sesekali responnya bahkan di luar konteks pertanyaanku. Yah, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya. Puan itu semenjak menjajakkan kaki di ruangan serba putih ini seperti terkena sihir. Mulutnya terkatup. Hanya dibuka jika makan, minum, sikat gigi, dan merespon orang-orang berseragam senada dengan cat tembok ruangan kaku. Tapi hari ini berbeda. Meski memang bibirnya tetap disegel, ada tarikan kecil yang kian detik kian melebar. Membentuk senyum tipis yang jika difoto lewat kamera gawai perlu zoom in beberapa kali. Hei, ini baru. Aku terkesima. Dia bisa secantik ini ya kalau tersenyum?
“Ada angin apa sampai senyum-senyum begitu? Aku memicing, mencoba mengikuti alur guratan pena hingga sampai di ujung kertas.
‘Dua hari lagi bakal ada festival kembang api. Sayang aku gak bisa ikut kali ini. Tapi! Aki sama yang lain udah janji bakal live vlog (gaya amat) aka video call selama festival berlangsung. Sebenarnya aku bisa saja nonton dari jendela, tapi mereka udah punya rencana sendiri khusus buatku. Ya, mana bisa kutolak kalau gitu hehe.’
Oh, jadi begitu. Terdengar menyenangkan. Menyebalkan memang tidak bisa beranjak dari ruangan dengan aroma penuh karbol. Apa daya, satu-satunya hal yang bisa membawanya keluar adalah kursi roda dan izin salah satu orang-orang berseragam hijau. Mana mungkin bisa didapat di atas jam tujuh malam. Apalagi festival kembang api kota ini biasanya bertahan sampai jam 12 malam. Itupun jika dibolehkan keluar—yang mustahil terjadi—masih ada pantangan makanan dan durasi keluar. Seingatku dia hanya keluar selama dua jam lebih sedikit. Lebih untuk menghirup udara segar dan sesekali latihan berjalan. Tidak pernah lebih, namun biasanya kurang dari durasi yang dianjurkan. Aku ingat dia pernah terjatuh dan dua minggu lebih hanya terbaring letih. Sebagai ganjarannya dia menulis hal yang sama sepanjang waktu pemulihan:
‘Aku mau keluar. Aku mau menghirup udara segar bukan disinfektan. Aku mau mendengar suster dan pasien lain berbincang, bukan suara monitor dan AC yang dinginnya seperti di kutub utara.’
Percayalah, dia hampir setengah gila. Aku pun demikian. Bayangkan dua minggu menulis hal yang sama dengan tatapan kosong penuh rasa bosan dan air muka pasrah. Ya Tuhan, gadis ini betul-betul mengerikan jika dilanda stress berkepanjangan. Kalau sudah begini setiap malam kalau bukan “keepyousafe” maka “Melody of Memories” yang terngiang di keempat sisi bata dingin. Seperti malam ini. Tepat sehabis menutup helai-helai kertas, secara otomatis jemarinya beralih ke gawai di nakas. Menyeruput sedikit air putih sebelum menekan tanda play di layar persegi panjang. Hanya empat menit penuh hening, kecuali vibrasi 40 persen yang sebenarnya sulit kujelaskan. Apa dia merasa kesepian? Apa dia sedang sedih? Tapi bukannya baru saja dia tersenyum? Bakal melihat warna warni percik api di cakrawala malam lusa nanti? Aku tidak pernah dan tidak akan mengerti isi boks hati dan otak perempuan ini. Kecuali jika dia berkenan menuliskannya kembali.
Matahari dan bulan saling berpapasan di ujung ufuk. Saling menggantikan shift kerja menemani kepala-kepala penuh materi duniawi dan mimpi-mimpi di atas gapaian bintang-bintang. Lagipula, kenapa mimpi-mimpi manusia seringkali di luar batas kemampuannya? Bukankah mereka dikaruniai oleh siapapun di atas sana dengan benda bernama otak yang katanya penadah wawasan dan selalu cemerlang? Singkatnya, rasionalitas. Selama hidupku tidak pernah ada jawaban yang pasti. Termasuk dari gadis aneh ini. Delapan belas tahun, dua belas gapura festival kota, dia tidak pernah memberitahuku. Sedikit pun. Terlebih karena sihir ruangan ini makin membuatnya seperti kehilangan jati diri, lebih-lebih aku tidak bisa menjadi otak dan hati kedua untuknya. Cuma lembaran catatan yang diisi sesuka hati. Tidak lebih, tidak kurang. Mungkin besok, mungkin seminggu, mungkin sebulan. Entahlah, aku tidak tahu kapan pastinya. Aku bukan si jam dinding cerewet atau si kalender usang yang terlalu gaptek.
“Mau kukasih tahu sesuatu?”
Aku mengerling, kembali meraba permukaan plafon dengan pantulan manik. “Apa?”
“Dia mau pergi.”
“Berjalan saja sudah terseok begitu. Festival nanti malam bahkan lewat video call, jangan mengada-ada deh.”
“Aku tidak mengada-ada, juga tidak bergurau. Kau lebih dari tahu apa maksud omonganku tadi.”
Baiklah, aku memang memilih untuk tidak percaya dan paham akan situasi gadis ini. Si gelas memang benar apa adanya. Penggambaran pas sesuai wujud fisiknya yang transparan. Aku memang tidak pernah mengerti bagaimana dunia berjalan di dalam kepala dengan surai pendek sebahu. Tapi lain halnya dengan kondisi sekarang ini. Aku memang lebih dari paham apa yang sedang terjadi sebulan lebih ini. Tirai putih, hand sanitizer, gelas, dan tentu saja si ranjang. Kami jadi sering berbincang semenjak aku pindah, tapi tidak pernah secara eksplisit membahas spesifik apa yang terjadi dengan tubuh puan. Kembali, aku tidak ingin membahas juga menolak kenyataan suatu hari kamar ini akan menjadi kamar terakhirnya.
“Halo, Aoi. gimana? Gak putus-putus kan?”
Dia menggeleng.
”Sip, mantap. Maaf ya agak guncang dikit. Aku lagi makan takoyaki, hehe. Mau disuapin gak?”
“Ih ma—eh, gak usah deh. Kamu aja. Kan aku gak boleh makan tepung.”
“Eh, iya ya. Hehe maaf.”
Perbincangan receh dua sejoli itu terus menggema di samping kanan. Menggemaskan, tapi di sisi lain aku jadi lebih kesepian. Apa lagi sebutannya? Oh, iya, third wheeling. Tapi percakapan selanjutnya benar-benar serasa di atas wahana kereta cepat atau komedi putar. Mengawang-awang dahulu, sebelum jatuh di dasar wahana. Bedanya, yang pertama akan turun deras, yang kedua perlahan seperti turun dari ayunan. Apakah percakapan selama bunga api mengembang indah di kanvas malam musim panas itu menggambarkan salah satunya? Mungkin saja, siapa tahu.
Layar panggilan berpindah ke lensa belakang gawai pintar. Sebentar lagi akan dimulai. Kali ini gadis itu merebahkan tubuhnya. Mengatur sandaran kasur agar lehernya tidak terlalu memiting ke kiri. Aki terlihat duduk bersila berbentur dengan lutut teman-temannya. Santai mengatur tripod yang sedikit lari akibat permukaan tanah yang tidak rata. Bising suara-suara menyapa telinga gadis itu. Yang disapa hanya terkekeh pelan menjawab satu-satu sembari membuka tutup ramune pemberian wanita muda dengan seragam biru langit. Katanya itu hadiah untuk setiap pasien yang menetap di kamar dan tidak keluar menonton di taman kecil tempat puan berlatih jalan bak balita. Oh, jangan khawatir, mereka yang menonton “live” juga dapat kok, katanya sih.
“Eh eh, udah mau mulai tuh!”
Atensiku teralih. Sekarang aku punya dua pemandangan sekaligus. Empat bahkan kalau pantulan kembang api di botol ramune dan si gelas ikut dihitung. Ini menyenangkan. Biasanya aku selalu mengintip dari balik jendela. Itu pun tidak terlalu kelihatan akibat atap rumah tetangga yang memakan sebagian langit kota. Jendela kamar ini jauh lebih baik meski gema suaranya lebih sayup-sayup terdengar. Tidak masalah. Tetap menjadi win-win solution bagiku.
Satu jam kembang api
“Aki, coba tebak aku minum ramune rasa apa.”
”Hmm... apel!”
“Tetot! Ini rasa ori.”
”Yahhh. Bukannya apel itu favoritmu?”
“Memang. Tapi aku dikasih sama susternya yang ori. Tetap enak kok.”
”Haha, kamu mah suka semuanya.”
Puan tertawa lagi. Menegak kembali isi botol kaca sembari menyaksikan dua skenario taman bunga setahun dua kali milik sang empunya bulan yang menonton dari balik awan-awan. Seruan teman-temannya menyemarakkan suasana. Rasanya benar-benar seperti sedang duduk di atas terpal dengan ramune di tangan kanan dan kipas merchandise event di samping kiri. Mungkin itu yang sedang dibayangkan puan.
Dua jam kembang api.
“Aki, tahu gak seberapa besar aku pengen meluk kamu sekarang?”
”Sebesar kembang api kuning barusan?”
“Hehe, lebih besar dari itu.”
Tiga jam kembang api.
Malam makin larut. Aku kembali mengalihkan atensi. Menatap sepasang mata yang menyimpan ribuan buncah rasa. Ada banyak sekali yang ingin dia utarakan. Terlalu banyak. Tapi mengapa dari sekian banyak kata-kata di lubuk batinnya, lidahnya terlalu kelu untuk mengutarakan? Atau mungkin, berbagi sedikit lebih banyak denganku? Motivasinya untuk menulis kesehariannya apa hanya sebagai bentuk pelampiasan kesal? Apa hanya sebagai sedikit tumpahan perasaan gembira? Ah, iya, aku lupa. Dia sudah punya kepala lain tempatnya menuangkan cerita.
“Aki... kita... putus ya?”
“…”
Tidak ada jawaban. Aku berasumsi dia tidak mendengar. Atau mungkin terlalu syok sampai membisu lama. Empat tahun berhubungan. Setelah segala hal yang dilalui bersama, gadis itu bulat dengan keputusannya. Maka panggilan ia matikan. Memandang kerlap kerlip bunga api dari kejauhan. Kali ini tidak ada lagu yang ia putar.
“Dear diary, kalau kamu bisa dengar aku, jangan dengar suaraku. Aneh ya? Tapi kali ini aku gak mau didengar. Aku sudah cukup muak dengan itu. Dengar suara kembang api aja ya? Kenapa? Gak apa-apa sih. Aku lagi malas menulis. Kamu juga tahu itu. Malam ini aku campur aduk. Kayak festival, semuanya ada. Senang iya, sedih juga iya, apalagi takut. No reason, and also I can’t describe it. Hang on with me a bit, would you? Ingat seberapa besar aku mau meluk Aki? Sebesar betapa aku menyayanginya sama seperti aku menyayangimu. Kamu cuma buku kecil, tapi lebih dari itu. Kamu nyimpan semua memoriku, semua kenangan yang besok-besok gak bisa kuingat lagi. Manusia hidupnya pendek, tapi aku pengen hidupku panjang lewat kamu. Itu lebih dari cukup.”
“Aku dengar semuanya.” Lebih dari semuanya. Deru napas yang satu-satu. Hembusan pendingin ruangan yang menusuk rusuk. Dan monitor yang kini memekik panjang. Detaknya nihil. Derap sepatu terdengar membentur panik. Aku hanya bersandar penuh di dadanya yang mulai mendingin. Menatap kembang api terakhir menari di ambang soda ramune.
Writer’s Corner :