by : Arunikaela
Pandanganku tercuri oleh gadis yang terduduk di depan altar Memeluk lentera, rambut panjang ikalnya yang persis lukisan ayah Menelusuri ruang dengan sorot mata, bagaikan penuh tanya Andai aku mampu bertukar sapa, mungkin akan menjawabnya
Aku merangkak, kuseret kaki kecilku menghampirinya Ia merentangkan tangan, menyambutku semestinya semesta Aku mulai gelisah, menerima peluknya yang tak menyentuh kulitku Ia tak kuasa, akhirnya mendengar tangisku sejadi-jadinya
“Maafkan aku, andai aku lebih berusaha Ampuni aku, aku meninggalkanmu sendiri” Maafkan aku, andai aku mampu membalas budimu Ampuni aku, aku meninggalkan penyesalan padamu
Pandangan ayah tertuju padaku, lalu bersimpuh di depan altar Memelukku hangat, menatap rambut ikalku yang persis kecintaannya Menatap lurus pada foto yang terpajang, berharap ia hadir disini Andai aku mampu menyampaikan, mungkin ayah juga merasakan
Ayah mengusap pipiku, tau bahwa hanya tangislah bahasa yang kubisa Ia mengusap pipinya, tak mungkin menangis di depan anaknya Ayah berdoa, empat batang korek api akan menjemputnya kemari Ia menghampiri, menyimak bisik permohonan ayah pada tuhan
“Terimakasih, sudah selalu berusaha yang terbaik Aku bahagia, kamu menemaniku di dalam jiwa lain” Terimakasih, izinkan aku membalas budimu Aku bahagia, meski hari ini aku saksi yang masih bisu
Writer’s Corner:
Cerita ini terinspirasi dari lagu humbert humbert - manazashi yang meminjam sudut pandang anak bayi yang melihat roh salah satu anggota keluarganya. Kemudian di puisi ini latar waktunya di perayaan obon dari kalimat "empat batang korek api akan menjemputnya kemari", tentang anak bayi yang melihat roh ibunya yang meninggal setelah melahirkan dia, ditandai di kalimat “Terimakasih, sudah selalu berusaha yang terbaik Aku bahagia, kamu menemaniku di dalam jiwa lain”
yey
-Arun