by : Rinne

Pasang tapak ramai-ramai melewati batang bambu. Pergi dan datang. Silih berganti.

Rungu dipenuhi dengan semarak. Riuh oleh cakap-cakap dan ketuk langkah, pula gemerisik akan semilir yang mengembuskan dedaunan bambu berhias kertas-kertas bergantungan. Netramu mengerjap oleh warna-warni yang mengisi pandangan. Seolah seperti tak terbiasa, kendati dirimu terus menginjak di tanah ini di putaran waktu yang sama.

Bulan ketujuh, tanggal tujuh.

Festival Tanabata.

Atau, pertemuan lainnya akan Orihime dan Hikoboshi di langit sana.

Tak ada hujan yang turun, dan kau beranggapan tak ada masalah yang patut dipusingkan. Maka, kau di sini hanya perlu mengumpulkan pesan-pesan yang patutnya disampaikan kepada para Dewa. Satu dari sekian hari tertentu yang membuat kesibukanmu dan para Pengantar Pesan berlipat ganda. Ada keluh kesah yang lewat di antara sesamamu, dan barangkali pula kau diam-diam mengeluh. Namun, pekerjaan tetap pekerjaan. Kau lewati orang-orang yang tak tahu-menahu kehadiranmu, sesekali ditembus menyamai kabut. Tangan terangkat, untuk kemudian menyentuh pohon bambu tersebut.

Lantas, rungu berganti dipenuhi oleh bisik-bisik.

(Aku ingin perasaanku terbalaskan.)

(Aku ingin lulus tahun ini. Lulus tahun ini, lulus tahun ini ....)

(Lenyapkan mereka .... LENYAPKAN MEREKA!)

(... aku ingin bahagia ....)

(Aku ingin. Ingin. Ingin. Ingininginingin―)

Ah. Permohonan manusia.

Napasmu dihela sejenak. Kau sesungguhnya bukan Dewa untuk mengabulkan permohonan, bukan pula manusia untuk menjadi manusiawi. Maka, kau sebagian besar tak mengerti oleh celotehan celotehan mereka. Kau bahkan tak mengerti mengapa pertemuan Orihime dan Hikoboshi di atas sana menjadi ajang festival menuliskan permohonan. Meminta belas kasih para Dewa untuk ikut mengabulkan permintaan mereka? Barangkali. Kau tak mengerti, tetapi turut menyimak cerita-cerita tentang mereka. Yang baik-baik. Yang buruk-buruk. Membawa pesan-pesannya ke ujung jembatan sana.

Agaknya menyedihkan. Itu anggapanmu selama bertahun-tahun. Menggantungkan diri kepada harapan, itu menyedihkan. Seolah segala upaya kembali digulir dalam dadu untuk menangkap hasilnya, sebuah pertaruhan dalam hidup.

Namun.

Namun, kertas-kertas itu. Harapan-harapan itu. Mereka sungguh menyerupai sulur untuk menarik kehidupan hingga batasnya.

Kau sesungguhnya bukan Dewa untuk mengabulkan permohonan, bukan pula manusia untuk menjadi manusiawi.

Hanya saja, kau terus menyisipkan itu di antara pesan-pesan yang akan terkirim. Tentang harapan-harapan yang bertumpah, temuilah jalan yang benar. Jadi, hingga kepada epilog cerita ini, kau tak perlu lagi menemukan akhir yang menyedihkan.

"Ah, semoga harapan kalian terkabulkan?" Lantas, kau hanya dapat tertawa. "Siapalah aku ini, menaruh harapan lainnya."

Kembang api menjadi penutup festival ini, dan kau menghilang dalam kabut. Menyisipkan, ah, semoga. Sungguh semoga, dalam akhir hidup mereka, hanyutlah dalam kembang api mempesona yang serupa.

Writer’s Corner :